Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir akan meminta penjelasan ke pemerintah Mesir atas insiden penahanan dan penyiksaan empat mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo asal Indonesia.
“Duta besar akan minta klarifikasi kenapa mereka ditahan,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, lewat sambungan telepon, Ahad(5/6).
Faizasyah mengatakan setelah membebaskan empat pelajar ini, Pemerintah Mesir belum memberikan klarifikasi.
“Kami sudah kirim nota klarifikasi tapi belum dibalas,” kata dia. Karena itu, lanjut Faizasyah Duta Besar Indonesia akan meminta klarifikasi langsung dari pejabat pemerintah di Mesir. Dia mengharapkan dari pertemuan itu kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Dia menduga ada kesalahan prosedur dari aparat keamanan Mesir dalam peristiwa tersebut. Peristiwa yang menimpa empat pelajar tersebut, lanjut Faizasyah baru pertama kalinya terjadi. “Ini ironis, mereka kan belajar ke sana dengan fasilitas beasiswa,” kata dia.
Menurut Faizasyah, kedutaan Indonesia di Mesir langsung meminta mereka dibebaskan begitu mendengar informasi penangkapan tersebut. Kedutaan juga berencana mengumumkan bahwa empat pelajar ini hilang bila tidak segera dibebaskan.
Sebelumnya, aparat keamanan Mesir telah menahan dan menyiksa empat mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, asal Indonesia.
Keempat mahasiswa dari Riau yang menjadi korban kebrutalan aparat Mesir itu adalah Ahmad Yunus, 26 tahun, mahasiswa tingkat IV Jurusan Tafsir; Fathurrahman (25), mahasiswa tingkat IV Jurusan Syariah Islam; serta dua mahasiswa baru yang tiba Mei lalu, yakni Tasrih Sugandi (23) dan Azril (19).
Peristiwa itu terjadi pada Ahad pekan lalu. Satu regu keamanan Mesir menggeledah sebuah rumah kontrakan dua kamar yang dihuni mahasiswa Indonesia di Distrik X Nasser City, Kairo.
Selama di tahanan, keempat mahasiswa itu dicecar pertanyaan soal poster Syekh Ahmad Yassin yang ada di kamar mereka. Keempat mahasiswa itu diinterogasi dalam keadaan mata tertutup.
“Kami juga dipukuli dan disetrum,” kata Ahmad Yunus.
Korban penyiksaan terparah adalah Fathurrahman. “Alat kelamin saya disetrum tujuh kali, dua di bagian kepala dan sisanya di buah pelir, hingga kulitnya terkelupas,” katanya saat dihubungi secara terpisah.
Faizasyah mengatakan kesehatan fisik dan psikis empat pelajar tersebut sudah diobati. “Mereka syok,” kata dia. Menurut dia, empat pelajar tersebut tidak berencana pulang ke Indonesia. “Mereka ingin menyelesaikan studinya dulu,” kata Faizasyah.








