Akhir Tahun Harga Beras Cenderung Naik
Akhir tahun 2009 ini harga beras semakin menanjak, berkisar antara Rp 400 hingga Rp 500 per kilogram sebagaimana terjadi di Pasar Dargo, Semarang. Diperkirakan harga akan terus melonjak bila Bulog tidak mengambil langkah positif untuk menstabilkan harga.
Kastawar, salah satu pedagang beras di Pasar Dargo mengharapkan Bulog segera mengambil langkah menggelar operasi pasar sebelum harga beras benar-benar tinggi dan ‘mencekik leher’.
“Kalau dibiarkan harga beras bisa mencapai 25%. Kini di tingkat distributor atau agen, beras mentik wangi yang semula Rp 5600 kini menjadi Rp 6100. Bramo sebelumnya Rp 5300 menjadi Rp 5800. Sedangkan C4 Super yang tadinya Rp 5000 menjadi Rp 5500 per kilogram. Untuk pengecer, biasanya harganya naik Rp 400 tiap kilogramnya. Kenaikan ini sudah terjadi dua kali dalam dua pekan ini”, kata Kastawar kepada wartawan.
Kenaikan harga beras menurut Kastawar dipicu karena habisnya masa panen dan mulai memasukinya musim penghujan. “Kalau musim sudah begini kan menghadapi hujan, sehingga waktu jemur gabah juga mulai terganggu karena tak ada panas. Akibatnya produksi beras jadi terhambat,” katanya.
Selain itu menghadapi akhir tahun juga berdampak pada permintaan beras yang mulai meningkat. Dalam kondisi meningkat inilah pasar mulai bermain harga karena minimnya pasokan.
Kondisi kenaikan harga diprediksi akan terus berlanjut hingga Februari tahun mendatang dimana diprediksi akan terjadi puncaknya penghujan. Bila harga beras tetap dibiarkan meningkat, maka menurut Kastawar hingga dua bulan ke depan harganya akan semakin tak terkendali.
Stok beras di Pasar Dargo hingga minggu kedua mencapai 75 ton. Kondisi demikian menurut Kastawar cukup. Namun meski cukup, dengan harga yang relatif tinggi menjadikan daya beli masyarakat menurun drastis.
Kepala Bulog Jateng Harry Syahda menyatakan keheranannya kenapa harga beras di pasar bisa naik. Padahal stok beras di gudang Bulog masih melimpah, dan bisa untuk memenuhi kebutuhan yang menjadi tanggungjawab Bulog hingga Juni 2010 mendatang.
Meski demikian, Bulog Jateng sudah mencadangkan sekitar 8.000 ton beras untuk program operasi pasar jika memang diperlukan. Meski demikian, untuk melakukan operasi pasar beras Bulog menunggu permintaan dari pemerintah. “Jika ada pemintaan melakaukan OP dari pemerintah daerah, kami siap dan sudah mencadangkan sekitar 8.000 ton,” tutur Harry Syahda.
Meski sudah mengalokasikan beras untuk operasi pasar, tetapi Harry Syahdan yakin hingga akhir tahun ini tidak akan ada operasi pasar beras, mengingat stok di pasar maupun di gudang Bulog masih melimpah. Bahkan hingga sekarang Bulog Jateng masih melakukan penyerapan gabah/beras dari hasil panen petani, khususnya di eks Karesidenan Surakarta dan Pekalongan.
Liputan:Mim/B21








